Jumat, 16 Desember 2011

Makalah Metode Kooperatif Tipe Bercerita Berpasangan



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
Pada hakekatnya pembelajaran bahasa, khususnya bahasa Indonesia yaitu belajar berkomunikasi dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis serta untuk mengembangkan kemampuan menggunakan bahasa Indonesia dalam segala fungsinya yaitu sebagai sarana berpikir atau bernalar.
Di lembaga pendidikan yang bersifat formal seperti sekolah, keberhasilan pendidikan dapat dilihat dari hasil belajar siswa dalam prestasi belajarnya. Kualitas dan keberhasilan belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan ketepatan guru memilih dan menggunakan metode pengajaran.
Kenyataan di lapangan, khususnya dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, kegiatan. Pembelajarannya masih dilakukan secara klasikal. Pembelajaran lebih ditekankan pada model yang banyak diwarnai dengan ceramah dan bersifat guru sentris. Hal ini mengakibatkan siswa kurang terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan siswa hanya duduk, diam, dengar, catat dan hafal. Kegiatan ini mengakibatkan siswa kurang ikut berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran yang cenderung menjadikan mereka cepat bosan dan malas belajar.
Melihat kondisi demikian, maka perlu adanya alternatif pembelajaran yang berorientasi pada bagaimana siswa belajar menemukan sendiri informasi, menghubungkan topik yang sudah dipelajari dan yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari, serta dapat berinteraksi multi arah baik bersama guru maupun selama siswa dalam suasana yang menyenangkan dan bersahabat. Salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagaimana yang disarankan para ahli pendidikan adalah pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan.
Pembelajaran kooperatif merupakan sistem pembelajaran yang memberikan kesempatan pada anak untuk bekerja sama dengan tugas-tugas terstruktur (Lie, 1999:12). Melalui pembelajaran ini siswa bersama kelompok secara gotong royong maksudnya setiap anggota kelompok saling membantu antara teman yang satu dengan teman yang lain dalam kelompok tersebut sehingga di dalam kerja sama tersebut yang cepat harus membantu yang lemah, oleh karena itu setiap anggota kelompok penilaian akhir ditentukan oleh keberhasilan kelompok. Kegagalan individu adalah kegagalan kelompok dan sebaliknya keberhasilan siswa individual adalah keberhasilan kelompok. Sedangkan bercerita berpasangan merupakan salah satu tipe dalam pembelajaran kooperatif. Yang membedakan tipe bercerita berpasangan dengan lainnya adalah dalam tipe ini guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Dalam kegiatan ini, siswa dirangsang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi.
       Berdasarkan pemaparan di atas, maka saya membuat suatu makalah yang berjudul “Metode Pembelajaran Bercerita Berpasangan”.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang di atas, maka diperoleh rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana hakikat metode pembelajaran bercerita berpasangan?
2.      Bagaimana karakteristik metode pembelajaran bercerita berpasangan?
3.      Bagaimana langkah-langkah yang digunakan seorang guru dalam metode bercerita berpasangan ?
4.      Bagaimana proses belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan di SMA kelas XII?
5.      Apakah keuntungan dan kelemahan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia SMA kelas XII?

C.    Tujuan Penulisan
       Berdasarkan pada rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai adalah:
1.      Mengetahui dan memahami hakikat metode pembelajaran Becerita Berpasangan.
2.      Mengetahui dan memahami karakteristik metode pembelajaranbercerita berpasangan.
3.      Mengetahui dan memahami langkah-langkah yang digunakan seorang guru dalam metode bercerita berpasangan .
4.      Mengetahui bagaimana proses belajar mengajar Bahasa Indonesia dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan di SMA kelas XII.
5.      Mengetahui keuntungan dan kelemahan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMA Kelas XII.

D.    Manfaat
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dalam penulisan makalah ini yaitu:
1.      Melatih keterampilan saya dalam membuat karya ilmiah.
2.      Menambah pengetahuan saya serta pembaca mengenai metode pembelajaran bercerita berpasangan.
3.      Menambah pemahaman saya serta pembaca mengenai metode pembelajaran bercerita berpasangan.












BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Pembelajaran Kooperatif
Sistem pembelajaran kooperatif bisa didefinisikan sebagai sistem kerja/belajar kelompok  yang terstruktur. Yang termasuk dalam struktur ini adalah lima unsur pokok yaitu saling ketergatungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama dan proses kelompok. Metode pembelajaran kooperatif disebut juga metode pembelajaran gotong royong. Ironisnya model pembelajaran kooperatif belum banyak diterapkan dalam pendidikan, walaupun orang Indonesia sangat membanggakan sifat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat. Kebanyakan pengajar enggan menerapkan sistem kerja sama di dalam kelas karena beberapa alasan. Alasan yang utama adalah kekhawatiran bahwa akan terjadi kekacauan di kelas dan siswa tidak belajar jika mereka ditempatkan dalam grup.             Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran gotong royong harus diterapkan :
1.      Saling ketergantungan positif
2.      Tanggung jawab perseorangan
3.      Tatap muka
4.      Komunikasi antar anggota
5.      Evaluasi proses kelompok

B.     Pembelajaran Kooperatif Tipe Bercerita Berpasangan
            Teknik mengajar Bercerita Berpasangan (Paired Storylelling) dikembangkan sebagai pendekatan interaktif antara siswa, pengajar, dan bahan pelajaran (Lie, 1994). Teknik ini bisa digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun bercerita. Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Bahan pelajaran yang palin cocok digunakan dalam teknik ini adalah bahan yang bersifat naratif dan deskriptif. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan dipakainya bahan-bahan yang lainnya.
Karakteristik bercerita berpasangan adalah :
a.       memerhatikan latar belakang siswa, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna.
b.      siswa dirangsang berpikir, , siswa diransang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan kemampuan berimajinasi. Buah-buah pemikiran mereka akan dihargai, sehingga siswa merasa makin terdorong untuk belajar. Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan ketrampilan berkomu
c.       digunakan untuk suasana tingkat anak didik.
Keuntungan Dan Kelemahan
Keuntungan
a.       Dapat memberikankesempatan kepada siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas sustu masalah.
b.      Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan berdiskusi.
c.       Para siswa lebih aktif bergabung dalam pelajaran mereka, dan berpartisipasi dalam diskusi
d.      Dapat memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengembangkan rasa menghargai dan menghormati pribadi temannya, menghargai pendapat orang lain, dan saling membantu dalam usahanya mencapai tujuan.
Kelemahan
a.       Menuntut pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda dan gaya mengajar yang berbeda-beda pula.
b.      Keberhasilan strategi kerja kelompok/bercerita berpasangan ini bergantung kepada kemampuan siswa memimpin kelompok atau untuk bekerja sendiri.

Langkah-langkah Metode Bercerita Berpasangan
a.       Guru membagi bahan pelajaran yang akan diberikan menjadi dua bagian.
b.      Sebelum bahan pelajaran diberikan, pengajar memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas dalam bahan pelajaran untuk hari itu. Pengajar bisa menuliskan topik di papan tulis dan menyatakan apa yang siswa ketahui mengenai topik tersebut, kegiatan brainstorming ini dimaksudkan untuk mengaktifkan skemata siswa agar lebih siap menghadapi bahan pelajaran yang baru.
c.       Siswa dipasangkan.
d.      Bagian pertama bahan diberikan kepada siswa yang pertama, sedangkan siswa yang kedua menerima bagian yang kedua.
e.       Kemudian, siswa disuruh mendengarkn atau membaca bagian masing-masing.
f.       Sambil membaca/mendengarkan, siswa disuruh mendengarkan atau mencatat dan mendaftar beberapa kata/frasa kunci yang ada dalam bagian masing-masing. Jumlah kata/frasa bisa disesuaikan dengan panjang teks bacaan.
g.      Setelah selesai membaca, siswa saling menukar daftar kata/frasa kunci dengan pasangan masing-masing.
h.      Sambil mengingat-ingat/memperlihatkan bagian yang telah dibaca/didengar sendiri, masing-masing siswa berusaha untuk mengarang bagian lain yang belum dibaca atau didengar berdasarkan kata-kata/frasa kunci dari pasangannya. Siswa telah membaca/mendengarkan bagian yang pertama berusaha untuk menulis apa yang terjadi selanjutnya, sedangkan siswa yang membaca/mendengarkan bagian yang kedua menuliskan apa yang terjadi sebelumnya.
i.        Tentu saja, versi karangan sendiri ini tidak harus sama dengan bahan yang sebenarnya. Tujuan kegiatan ini bukan untuk mendapatkan jawaban yang benar, melainkan untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar dan mengajar. Setelah selesai menulis beberapa siswa bisa diberi kesempatan untuk membacakan hasil karangan mereka.
j.        Kemudian, pengajar membagikan bagian cerita yang belum terbaca kepada masing-masing siswa. Siswa membaca bagian tertentu.
k.      Kegiatan ini bisa diakhiri dengan diskusi mengenai topik dalam bahan pelajaran hari ini. Diskusi bisa dilaksanakan antara pasangan atau dengan seluruh kelas.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Metode yang digunakan adalah metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif, yaitu metode yang tidak menguji hipotesis melainkan hanya mendeskripsikan informasi apa adanya sesuai dengan variabel-variabel yang diteliti.
            Penulisan karya ini termasuk penelitian dengan pendekatan kualitatif yang datanya dinyatakan dalam keadaan sewajarnya atau apa adanya (naturalistik), tidak diubah dalam bentuk simbol-simbol atau bilangan dengan maksud untuk menemukan kebenaran dibalik data yang objektif dan cukup. Penelitian ini lebih menekankan analisisnya pada proses penyimpulan deduktif dan induktif serta pada nalisis terhadap dinamika hubungan antar fenomena yang diamati dengan menggunakan logika ilmiah. Hal ini bukan berarti pendekatan kualitatif sama sekali tidak menggunakan dukungan data kuantitatif akan tetapi penekanannya tidak pada pengujian hipotesis melainkan pada usaha menjawab pertanyaan penelitian melalui cara-cara berpikir formal dan argumentatif.
            Data atau informasi yang dijaring penelitian kualitatif dapat terbentuk gejala yang sedang berlangsung, reproduksi ingatan, pendapat yang bersifat teoritis atau praktis dan lain-lainnya. Data tersebut baik berupa kata atau tindakan, oleh karena itu analisis isi lebih penting. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumenter. Istilah dokumenter atau dokumentasi berasal dari kata dokumen yang berarti barang-barang tertulis. Alat pengumpul datanya disebut form dokumen atau form pencatatan dokumen. Sedangkan sumber datanya berupa catatan atau dokumen. Metode dokumenter dengan demikian berarti upaya pengumpulan data dengan menyelidiki benda-benda tertulis. Benda tertulis tersebut dapat berupa catatan resmi seperti buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, dan lain-lainnya, atau catatan tidak resmi, berupa catatan ekspresif seperti catatan harian.
Analisis data kualitatif menurut Lexy J. Moleong (1994:196) sebagai berikut:
a.       Menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber.
b.      Reduksi data.
c.       Menyusun data hasil reduksi ke dalam satuan-satuan.
d.       Melakukan kategorisasi terhadap satuan-satuan data sambil membuat kodig.
e.       Uji keabsahan data
f.       Penafsiran data dalam mengubah hasil sementara menjadi teori substantif dengan menggunakan beberapa metode tertentu.
g.      Penarikan kesimpulan.




















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.Hasil
            Dari hasil analisis buku-buku yang berkaitan dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia SMA kelas XII, penulis dapat menyusun rencana pembelajaran yang sesuai.
            Di bawah ini adalah contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang menerapkan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia SMA kelas XII.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Sekolah : SMA Negeri 15 Makassar
Mata Pelajaran     : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester   : XII/2
Waktu                 : 2 x 45 Menit (1 x pertemuan)
A.    Standar kompetensi  : mendengarkan
1.      Memahami  cerita tentang suatu peristiwa dan cerita pendek  anak yang di sampaikan secara lisan
B.     Kompetensi dasar
5.2 mengidentifikasi unsur cerita (tokoh dan penokohan, tema, latar, amanat
C.     Indikator :
               1. mampu mengidentifikasi tokoh yang terdapat dalam cerpen anak
               2. mampu memahami latar cerpen anak
               3. mampu menentukan tema cerpen anak
               4. mampu menguraikan amanat cerpen anak
D.    Tujuan pembelajaran
                Setelah materi disajikan, siswa dapat :
1.      Menjelaskan tokoh yang terdapat dalam cerpen anak.
2.      Menguraikan latar   cerpen anak.
3.      Menjelaskan tema cerpen anak
4.      Menguraikan amanat cerpen anak.
E.     Materi  pokok pembelajaran
               1. cerpen anak
               2. unsur unsur instrinstik cerpen anak
F.      Metode pembelajaran
               Kooperatif tipe bercerita berpasangan
G.    Langkah langkah kegiatan pembelajaran
No
Kegiatan
Metode
Alokasi waktu
1
Kegiatan awal :
a. Guru dan siswa saling memberi      salam dan berdoa
b. guru membangkitan motivasi untuk belajar
c. guru mengadakan apersepsi (mis: tentang dogeng )
d. guru menyampaikan kompetensi dasar dan Tujuan pembelajaran
Ceramah
Bervariasi
10 menit
2
Kegiatan inti :
Fase 1 : penyajian materi
a.       Guru mengadakan pretes
b.      Guru membagikan unsur cerpen lalu menjelaskan unsur intrinsik cerpen
c.       Guru memberi contoh cara mengnalisis unsur cerpen tersebut.
Fase 2 : pembagian kelompok
a.       Guru membagi murid dalam kelompok dan setiap kelompok terdiri atas dua orang
( berpasangaan)
b.      Guru menjelaskan tentang metode kooperatif tipe bercerita berpasangan
c.       Guru membei contoh bercerita berpasangan.
d.      Siswa secara berpasangan mempelajari cerpen yang telah dibagikan
e.       Guru menyuruh siswa membagi dua bagian cerpen lalu mempelajari atau menghafal bagian yang diperoleh masing-masing individu
Fase 3 : belajar berkelompok
a.       Siswa mempertukarkan bagian cerita untuk di hafal agar keduanya mengetahui cerita itu secara utuh
b.      Setiap kelompok berdiskusi tentang isi cerpen
c.       Setiap individu menulis pokok-pokok cerpen yang menjadi inti cerita. Hal ini menjadi pedoman mereka saat merangkai cerita saat tampil didepan teman-temannya
d.      Pokok-pokok cerita itu boleh ditulis lalu dibacakan atau dipajang di dinding kemudian diadakan kunjungan karya untuk mengoreksi secara tertulis
e.       Setiap kelompok brgantian bercerita berpasangan tampil didepan teman-temannya
f.       Guru membimbing kelompok  apabila memerlukannya
g.      Setelah semua kelompok mendapat giliran bercerita berpasangan siswa diberi tes
fase 4 : pemberian kuis / tes
a.       Guru membagikan soal-soal postes (sesuai dengan tujuan pembelajaran )
b.      Siswa mempertukarkan pekerjaannya
c.       Guru membagi format penilian dan menjelaskan pedoman penskoran
d.      Guru menjelaskan jawaban dan siswa memeriksa /menilai hasil pekerjaan temannya
e.       Guru mengumpulkan hasil postes siswa
Bercerita berpasanagn








Langsung












Pemodelan





langsung






70 menit

Kegiatan akhir
Fase 5 : pnghargaan
a.       Guru memberikan verval maupun maupun non verbal, baik individu maupun kelompok
b.      Guru dan siswaa merangkum materi pelajaran
c.       Guru memberi peker-jaan rumah, baik yang berhubungan dengan materi yang telah disajikan dan materi yang berikutnya
d.      Guru dan siswa menutup pelajaran dengan salam dan berdoa




H.    Sumber/Media/Alat/Bahan Pembeajaran
·         Naskah berita radio atau televisi
·          Buku paket Bahasa Indonesia SMA Kelas XII
I.       PENILAIAN
·         Tes lisan : Tanya jawab
·         Penilaian proses : Dilakukan melalui pengamatan saat peserta didik melakukan kegiatan.
·         Tes perbuatan : Diskusi
·         Jenis Tagihan : Tugas Individu dan Kelompok
B.Pembahasan
Berdasarkan dari hasil analisis data yang diperoleh dari analisis dokumen, penulis sudah dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dari awal sampai akhir untuk menerapkan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia SMA XII. Pengajaran yang dilakukan oleh guru adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dalam kegiatan belajar mengajar. Kegiatan seperti itu memberikan kesempatn kepada siswa untuk berdiskusi, bertanya, maupun mengeluarkan pendapat, serta berinteraksi dengan siswa yang menjadikan siswa aktif dalam kelas.
Dengan demikian peran guru di dalam kelas bukan lagi sebagai satu-satunya sumber belajar tetapi lebih bersifat sebagai penggerak atau pembimbing siswa untuk memperoleh pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang diperoleh siswa sendiri akan lebih melekat lebih lama di pikiran dan menjadikan prestasi belajar siswa meningkatkan. Pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Oleh karena itu pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan sangat cocok untuk pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dengan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan merangsang siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan kemampuan berimajinasi. Buah-buah pemikiran siswa akan dihargai, sehingga siswa merasa semakin terdorong untuk belajar. Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keetrampilan berkomunikasi. Di samping itu situasi kelas menjadi menyenangkan dan bersahabat.
            `Penerapan pembelajaran kooperatif ini tergolong masih relatif baru dan belum banyak diterapkan di kelas-kelas. Oleh karena itu dalam menerapkan pembelajaran kooperatif ini menemukan berbagai kendala di antaranya yaitu kesulitan mengkoordinasikan siswa kepada situasi yang dikehendaki tipe bercerita berpasangan. Siswa-siswa sebagian besar masih belum mengerti dan banyak bertanya tentang apa yang harus dilakukan, sehingga banyak menyita waktu dan perhatian guru. Di samping itu guru juga harus mengatur tempat duduk yang berbeda-beda dan gaya mengajar yang berbeda-beda pula.
Untuk mengatasi kendala tersebut yang dilakukan oleh guru adalah memberikan pengertian dan penjelasan berulang mengenai segala sesuatu yang harus dilakukan oleh siswa agar sesuai dengan prosedur yang diinginkan. Kemudian untuk masalah tempat duduk siswa, guru dapat mengatur penetaan bangku yang berbeda-beda misalnya dengan meja tapal kuda, meja panjang, penataan tapal kuda, meja laboratorium, meja kelompok, klasikal, bangku individu dengan meja tulisnya, meja berbaris.Pengalaman guru dan siswa pada pembelajaran kooperatif juga turut menentukan keberhasilan dalam pembelajaran.










BAB V
PENUTUP
A.    Simpulan
            Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif atau kerja sama antar kelompok yang anggota kelompok saling membantu antar teman yang satu dengan teman yang lain dalam kelompok tersebut, sehingga di dalam kerja kelompok atau pembelajaran kooperatif, siswa yang lebih pandai dapat membantu siswa yang lemah.
            Dengan adanya model pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan siswa dapat lebih aktif untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan kemampuan berimajinasi. Di samping itu pembelajaran ini juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk diskusi, bertanya, maupun mengeluarkan pendapat serta berinteraksi dengan siswa yang menjadikan siswa aktif dalam kelas.
Penerapan pembelajaran kooperatif memiliki kendala di antaranya kesulitan mengkoordinasikan siswa kepada situasi yang dikehendaki. Dan juga terdapat kelemahan pada teknik belajar kelompok misalnya mengatur penataan bangku yang berbeda-beda dan model/gaya mengajar yang berbeda-beda pula.

B.     Saran
            Bertitik tolak dari hasil pembahsan, maka dapat dikemukan saran-saran yang kiranya berguna dalam proses pembelajaran :

a.       Mengingat metode pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan untuk meningkatkan prestasi belajar, maka hendaknya guru menerapkan metode pembelajaran ini di kelas sebagai selingan metode-metode belajar yang sudah ada.
b.      Pembelajaran ini hendaknya diterapkan secara kontinu baik untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia maupun pelajaran yang lain.




DAFTAR PUSTAKA

Djumingin, Sulastriningsih. 2010. Strategi dan Aplikasi Model Pembelajaran Inovatif Bahasa dan Sastra. Makassar: UNM
Azwar, Saifuddin.2005.Metode Penelitian.Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
http://www.duniapembelajaran.com/2011/04/metode-pembelajaran-bercerita.html


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar